Laman

Tampilkan postingan dengan label Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hati. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Mei 2016

Kenapa harus bercerita ??

Jam segini baru pulang, melewati macetnya Jakarta ...
Naik bis dinas dan kejedot sampe bengkak ..menjadi sebuah cerita tersendiri hari ini ...
Rasanya ingin sekali berbagi dan menceritakannya pada seseorang.. entahlah, mungkin karna terbiasa seperti itu sejak kecil .. ada banyak kehangatan yg d dapatkan dari cerita itu ...
Bukan niat mengadu, hanya senang bercerita .. itu saja .. itu saja ...
Tapi ketika suatu saat ada yg bilang aq banyak mengeluh, d situ aq merasa sedih 😭
I just want to share my story .. aq mengistimewakan orang itu .. bukan bermaksud mengeluh.. sama sekali tidak.
Jadi biar d sini saja kubagi ceritaku .. yang dulunya selalu ada ibuku yang mendengar ceritaku, biar sekarang disini kubagi ..

Jaksel, 30 Mei 2016
19.00

Senin, 05 Oktober 2015

Sudahkah kita ?

mencopas dari adjiesilarus.com beneran bagus, dan menggugah ..
yuk baca juga ..

Sudah Berapa Lama Kamu Tidak Memeluk Dirimu Sendiri?

“Tak akan mampu memberikan pelukan hangat, jika belum melakukan serupa untuk diri sendiri.
Ada luka di dalam diri yang menyebabkan masalah-masalah hadir dalam kehidupan saya. Perasaan tidak bahagia, menderita, stres, melakukan penundaan, mudah terganggu, marah tak tentu arah, tidak puas dengan segala yang ada, gaya hidup yang sembarangan, cenderung tidak sehat, dan lain sebagainya.
Masalah-masalah yang tidak sederhana, apalagi ketika bersarang terlalu lama menemani waktu yang tak kenal kata berhenti. “Apakah ada cara untuk membantu melunakkan masalah-masalah itu beserta dampak buruknya, dan membuat hidup saya lebih baik daripada sebelumnya?”
Layaknya minum untuk melepas dahaga diawali dengan merasa haus, sebelum melakukan cara untuk melunakkan masalah, perlu diawali dengan kesadaran akan kenyataan yang ada bahwa diri saya menderita. Derita tidak membuat diri saya berkecil hati, karena saya punya banyak kawan. Kita semua menderita. Kita semua terluka, dari luka kecil yang bahkan kita tidak merasa kalau kita terluka, sampai luka besar yang dengan seluruh daya dan upaya, kita tidak mampu menyembunyikannya. Setiap hari kita terluka. Luka dan derita ini yang menyebabkan masalah-masalah hadir dalam kehidupan.
Setelah kesadaran ini ada, saya perlu memperbaiki hubungan dengan diri saya sendiri, bukan malah membencinya. Saya mulai berusaha memunculkan cinta dari saya untuk diri saya sendiri. Setelah selama ini, dipenuhi sesak dengan hujatan.
“Seberapa sering saya menghina dan membenci diri saya sendiri?”
Baik terwujud nyata dalam perasaan maupun perkataan, caci maki kepada diri sendiri terus terjadi hanya karena daftar yang harus diselesaikan setiap hari bertambah banyak, karena kritik keras dari orang lain, bahkan sebelumnya saya tidak mengenalnya, karena hal-hal yang tak kunjung terselesaikan, karena sikap dan perilaku orang-orang yang tak sesuai keinginan saya, karena kemacetan lalu lintas, karena aplikasi yang tidak bisa digunakan sesuai rencana, karena marah setelah orang-orang di sekitar mengucapkan kata tak mengenakkan hati, karena kawan-kawan seolah tak mau memberikan telinganya untuk mendengarkan secara sukarela keluh kesah saya, juga karena merasa diri serba tidak baik, terlalu kurus, terlalu tinggi, memakai kacamata, gundul, tidak punya kemampuan ini dan itu, dan masih banyak lagi. Ada juga yang selalu merasa tidak cantik, miskin, kesepian, dijauhi, dibenci, tua, jelek, tidak nyaman dan segala yang tidak baik. Tanpa disadari merawat dan memupuk hubungan rusak dengan diri sendiri.
Melunakkan masalah yang hadir dengan mencintai diri saya sendiri. Untuk sebagian orang, mencintai diri sendiri terkesan aneh, tak bisa dipahami dengan mudah. Bahkan malah ada yang salah mengartikan menjadi egois. Mencintai diri sendiri bukan egois. Mencintai diri sendiri juga bukan berarti terlalu memanjakan diri, bukan terjajah oleh cinta, yang akan kembali mendatangkan derita.
Mencintai diri saya sendiri berarti bersikap lemah lembut kepada diri saya sendiri. Sesederhana memuji diri sendiri sepantasnya. Menerima diri saya saat ini, di sini-kini, apa adanya, termasuk menerima goresan-goresan luka, pun luka yang masih menganga. Sudah berapa lama saya tidak memeluk diri saya sendiri? Dengan penuh rasa maaf dan diselimuti kehangatan?
Hanya dengan cara demikian, masalah-masalah yang hadir dan bersarang melunak, hingga lebih bisa dan mampu mencintai sesama, siapapun, semua makhluk dan apapun.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~terima kasih~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Senin, 10 Agustus 2015

MAAF ..




Aku bukan wanita yang sempurna, pun bukan muslimah yang alim. Suatu ketika kau akan melihatku mengulurkan hijabku, suatu kali kamu melihat bajuku yang tidak longgar. Tolong jangan salahkan jilbabku, jangan salahkan bajuku yang tidak sesuai, jangan salahkan agamaku, jangan salahkan status muslimahku. Karena itu murni salah diriku. Bukan apa yang menempel padaku. Bukan salah agamaku. Itu salahku.
Suatu kali kau akan mendengar banyak nasehat terurai dari mulutku. Dengan yakin aku mengatakannya. Tapi kali lain, kau melihatku juga melanggarnya. Tolong jangan salahkan nasehat yang pernah terucap. Jangan bandingkan dengan sikapku yang tak sesuai. Tolong jangan.
Aku manusia biasa. Sangat biasa. Tidak istimewa. Tapi sangat ku syukuri bagaimana aku di ciptakan. Dan itu pula yang membuatku malu. Betapa aku diciptakan sebaik ini, namun malah masih mengotori kesempurnaan yang sudah diberikanNya.
Setiap kali aku memakai  baju yang tak sesuai, seringkali itu karena aku merasa percaya kepada diriku dan tak menyerahkan diri sepenuhnya kepadaNya. Atau karena akal fikirku yang labil dan kelabu tersaput debu.
Setiap kali kau melihatku dengan gamis dan jilbab yang terulur. Itu bukan karena aku alim. Itu karena aku merasa nyaman dengan itu. Atau karena aku merasa memang seharusnya begitu. Atau juga kadang aku merasa malu. Ya malu.
Kala aku banyak menasehati. Itu bukan karena aku benar dan tak pernah melakukannya. Percayalah. Aku hanyalah seorang pendosa. Seperti manusia lainnya. entah bagaimana jika Alloh tak menutupi aib-aibku. Kala aku menasehati itu karena mungkin aku sudah merasakan dan melakukannya sehingga aku tak mau juga terjadi atau dilakukan oleh orang-orang dekatku. Itu saja.
Maafkan aku dengan ketidak sempurnaanku, tapi inshaAlloh semoga perbaikanku berjalan terus ..
Maafkan lisanku yang masih sering melukai banyak hati, dan telingaku yang tak mendengar banyak nasehat,
Jika ada yang salah padaku, tolong, ingatkan aku, ingatkan aku pelan-pelan ...
Syukron

Minggu, 09 Agustus 2015

Ada Kalanya ..

ada kalanya ketika air yang jernih, kemudian menjadi keruh..
entah apapun penyebabnya ..
kalau air, kita cukup mendiamkannya ..
tapi, bagaimana dengan hati?

ada kalanya, tidak semua yang kita rasakan kita utarakan,
meski kadang pedih, ketika orang lain menyatakan terang2an kepada kita ..

ada kalanya, air yang mengalir pun, terendat ..
tertahan sesuatu yang seharusnya lewat ..

ada kalanya,
ya ada kalanya ..

lama aku tak menyapa, bukan tak rindu,
hanya tak tahu musti berbincang tentang apa,
entah karena ada yang membuatku tenang dan bahagia..
entah karena ada tempat yang selalu mendengarkan cerita-cerita ..
entah karena ada cinta yang hangat merasuki jiwa ..

kini aku menyapamu, bukan karena aku rindu ..
bukan pula hilang sang penenang jiwa..
atau telah pergi sang pengusir gundah ..

hanya aku merasa perih, ketika tempat itu menutup pintunya ..
membiarkanku kehujanan di depan pintu ..
salahku pergi ..
tapi bukan mauku untuk berdiri di tengah hujan..
bukan mauku mendatangkan hujan ..

ada kalanya aku harus begitu, ada kalanya ..

aq hanya enggan bertanya, ada kalanya ..
kenapa sekarang berbeda, tidak seperti saat berdua ..
ada kalanya, kupikir ada kalanya semua tak terlihat sama ..
agar aq mensyukuri semuanya.. entah yang telah lepas, yang masih tergenggam, yang akan terlepas, atau yang akan tergenggam ..

ada kalanya,
ketika rindu ini seperti bara ..
menjadi sekam di dalam jiwa ..
bukan lagi ada kalanya,
aq, km dan siapapun tahu, bahwa kita tak pernah tahu,
kapan sekam itu benar2 padam ..

bogor, 09 Agustus 2015, 21.08 WIB

Senin, 27 April 2015

PETUAH



Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan dari malam. SESUNGGUHNYA PERBUATAN-PERBUATAN YANG BAIK ITU MENGHAPUSKAN (DOSA) PERBUATAN-PERBUATAN YANG BURUK. ITULAH PERINGATAN BAGI ORANG-ORANG YANG INGAT.

 QS HUD ~ 114

Senin, 06 April 2015

transformasi diri

kenapa kita dilarang berlama-lama dalam kedengkian dan kebencian?
karena khawatir ajal menjemput lalu kita mati membawa itu semua.
~~~~~~~jefri al bukhori~~~~~~~

bismillahirohmanirrohim, dengan membaca bismilah mari kita lepaskan semua benci dan dengki yang kita punya, sekecil apapun ..
dan, tulisan ini, semoga menjadi tanda dan pengingatnya, aamiin
bogor, 06 April 2015, 10.52 WIB

Rabu, 11 Maret 2015

kamulah hidupku ..



Hati-hati dengan kata-katamu,
Kamulah hidupku .. sering sekali ada status begitu di dunia maya, atau .. kaulah segalanya. Atau kaulah nafasku, separuh jiwaku dan apalah yang lainnya.. ya semacam gombalan(menurutku) untuk kekasihnya (entah halal apa belum), atau barangkali ada yang menganggap serius kata-kata tadi ..
Menyenangkan memang kalau lagi jatuh cinta dibilang begitu, manusiawi tentunya. Tapi sadarkah kalau kata-kata itu salah ?
Salahnya dimana?
Sebelumnya terima kasih kepada seseorang yang pernah bilang kepada saya begini, “tolong jangan jauhkan aku dari dia, aku ga bisa hidup tanpa dia” gitu. (jika ada yang merasa, maaf saya tidak ijin dulu, mungkin orangnya sudah lupa, tapi saya masih ingat betul, hehe, jadi sekalian ijin ya, kata-kata anda saya tulis disini, semoga bisa jadi pelajaran untuk banyak orang yang membaca).
Waktu itu, saya jengkel dengar kata-kata itu hehe, lhah coba Alloh ngambil oksigen disekeliling dia, habislah dia. Iya kan ? Tapi sekarang malah geli. Kenapa? Itu terjadi sudah beberapa waktu yang lalu, pas smartphone belum marak kaya sekarang (apa hubungannya? Hehehe). Tapi toh orangnya masih hidup, padahal ga hidup bareng si”dia”nya itu. Disini, mari kita tinjau, elah bahasanya. Hehe. “ga bisa hidup tanpa si”dia”. Emang yang ngasih kamu hidup siapa?? “dia” ?? bukan kan?? Gitu, salahnya di situ. Rayu merayu boleh saja, Rosululloh juga gitu, tapi silahkan di pikir-pikir sebelum mengatakannya, kenapa? Bisa jadi itu syirik, atau seperti yang tadi itu. Ga sadar mungkin kalau orang lagi jatuh cinta terus ada proses rayu merayu seperti itu. Tapi kembali lagi, jangan sampai fase yang indah itu malah membuat kita terjerumus ke neraka untuk selamanya nantinya (naudzubillahimindzalik). Mari belajar mencintai seperti fatimah kepada ali bin abi thalib ketika belum menikah, indah dan berpahala .. 
Maunya sih gitu, tapi susah. Pasti begitu. Orang saya sendiri juga gitu, hehe. Makanya mari sama-sama kita berdoa, agar diberikan kemampuan dan kekuatan untuk seperti fatimah. Aamiin ..
Semoga bermanfaat, wallohu a’lam bishowab ..
Bogor, 09 maret 2015. 21.47. WIB

Rabu, 18 Februari 2015

PERCAKAPAN MALAIKAT



Pernah suatu kali ada yang meminta agar blog ini di isi kisah-kisah lucu. Tapi sejujurnya aku agak ragu. Kenapa ? karena sepotong percakapan ini ..

Dua malaikat sedang berbincang,
Malaikat 1 : wahai saudara malaikat, sejatinya apakah kamu tidak merasa heran kepada manusia?
Malaikat 2 : heran kenapa wahai malaikat 1. Bukankah dulu kita sempat heran kenapa Alloh menciptakan manusia, tapi memang Alloh maha Tahu dengan penciptaannya.
Malaikat 1 : ya benar, itu aku masih ingat.  Aku hanya heran, kenapa mereka masih bisa tertawa begitu lepasnya seakan mereka tak berdosa. Tidak tahukah mereka kalau kita mengawasinya bahkan 70 kali sehari? Tidak tahukah mereka bahkan Alloh memberikan hak kepada kita untuk mencabut nyawa mereka kapanpun?
Malaikat 2 : ya seharusnya mereka tahu kalau malaika itu bukan hanya bersifat baik, tiba-tiba datang saat mereka butuh pertolongan, atau seharusnya mereka tahu, malaikat itu bukan hanya malaikat tak bersayap seperti yang sering mereka nyanyikan. Seharusnya mereka tahu ada juga kita, malaikat maut yang senantiasa mengawasi mereka.
Semoga bermanfaat ..
Wallohu a’lam bishowab

MEONG :*


Beberapa saat yang lalu ada status yang menarik perhatian di beranda jaring sosial yang ku punya. Ehm intinya begini kira-kira “satu pertanyaan yang akan kuajukan kepada calon istriku nanti adalah “apakah kamu suka kucing?””. Rasaku ingin comment tidak, aku tak suka. Tapi aku cinta dengan hewan lucu itu. Tapi aku urungkan, takutnya dikira cari perhatian hehehe. Lagian ada beberapa pikiran juga di pikiranku. Kenapa harus kucing? Bukannya semua hewan itu makhluk juga ya? (konteks kita sebagai makhluk)

Selasa, 10 Februari 2015

ADA UDANG DI BALIK BAKWAN

Tidak semuanya itu tampak seperti sebenarnya. jadi, jangan langsung mberpikir yang jelek, berikut saya bagi sedikit cerita, semoga bermanfaat ..



Suatu hari, ada dua malaikat yang menyamar menjadi manusia dan berkunjung mendatangi sebuah keluarga kaya raya yang kikir, mereka menyamar menjadi musafir dan meminta tolong agar bisa tinggal semalam di rumah tersebut. meskipun enggan, namun orang kaya tersebut kemudian mengijinkan malaikat tersebut untuk menginap. Di rumah yang megah tersebut mereka tidak diperlakukan secara layak. Tidak disuguhi makan dan minuman dan bahkan untuk tempat tidurnya adalah rumah bekas kandang. “kamar” tersebut sangat tidak layak untuk disebut kamar. Temboknya pun retak. Melihat tembok retak tersebut, malaikat pertama kemudian membantu menambal tembok tersebut sehingga membuat malaikat kedua menjadi terheran-heran.
“wahai malaikat, kenapa kau membantu menambal tembok orang yang kaya namun kikir ini?” tanya malaikat pertama..
Malaikat kedua tersenyum dan menjawab, “diamlah, nanti kamu akan tahu jawabannya kenapa aku melakukannya, sesungguhnya Alloh-lah yang Maha Tahu”.
Malam selanjutnya, kedua malaikat tersebut mengunjungi orang miskin yang baik hati. Mereka berdua meminta ijin agar bisa menginap di rumah tersebut. Didalam rumah tersebut, mereka dilayani dengan baik. Meskipun makanan yang ada tinggal sedikit, namun mereka tetap diajak makan bersama. Dan merekapun diberikan kamar yang terbaik yang mereka punyai. Namun pada pagi harinya ternyata malaikat yang pertama membunuh satu-satunya hewan peliharaan keluarga miskin tersebut. malaikat kedua semakin bertambah heran.
“wahai saudaraku malaikat, kenapa kamu mencabut nyawa hewan satu-satunya yang mereka punya?, bisakah kau jelaskan setiap tindakanmu itu?” tanya malaikat kedua.
“ya baiklah, akan aku jelaskan. Pertama kenapa aku mencabut satu-satunya hewan di rumah miskin itu, karena sebenarnya sang istrinyalah yang sesungguhnya akan mati, namun aku menggantikannya dengan hewan peliharaannya. Kemudian kenapa aku menambal tembok si orang kaya? Karena aku melihat ada emas yang banyak pada retakan tembok tersebut, sehingga aku menambalnya agar tidak diketahui oleh si orang kaya yang kikir tadi”. Jawab malaikat pertama.
Saudaraku, pelajaran yang dapat kita ambil adalah, segala sesuatu di dalam kehidupan ini pasti memiliki makna. Tidak hanya seperti tampak luarnya saja. Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari kehidupan kita ini. Pepatah mengatakan dont judge book by its cover. Itu berlaku juga untuk kehidupan.
Apa yang Alloh berikan kepada kita, apa yang orang lain lakukan kepada kita, apapun bentuknya, pasti ada tujuannya. Berkhusnudzon-lah.. kenapa? Karena Alloh berfirman “AKU sesuai dengan prasangka hambaKU” , oleh karenanya, berprasangka baiklah. Buatlah frame yang baik untuk setiap potong kehidupan kita, bingkailah setiap moment yang ada dengan khusnudzon dan kemudian gantungkanlah frame itu pada Alloh. Biar DIA yang mengeksekusi setiap permintaan kita. Karena memang hanya DIA yang tahu yang terbaik untuk kita.
Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam bishowab..

In the rain. Rain City. 10 Februari 2015. 07.21 WIB

MENJEMPUT HIDAYAH

bismillahirrohmannirrohiim ..



Ada banyak doa yang aku panjatkan untuk banyak orang. salah satu doanya adalah agar beberapa orang yang aku doakan segera mendapatkan hidayahNYA. Yang belum berhijab agar segera berhijab. Yang sudah berhijab tapi belum benar (seperti saya hehe) semoga segera bisa memperbaiki diri. Doanya ya semoga segera mendapatkan hidayah.
Tapi pada suatu sore yang sejuk, suatu ketika teman sekamarku “mami” memutar suatu kajian oleh ustadz. Dan pas banget aku sempat dengar ustadznya bahas tentang hidayah. Hidayah itu kata dasarnya adalah huda atau artinya adalah petunjuk.
Sebagai umat islam, kita pasti tahu kalau pedoman hidup kita adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan sudah tahukah anda, kalau Al-Quran juga mempunyai nama-nama agung lainnya, salah satunya adalah Al Huda. Kata ustdznya yang dikajian, kebangetan banget bagi orang muslim yang selalu berdoa meminta hidayah agar datang padanya. Kenapa ? karena hidayah itu sudah ada. Pedoman hidup kita. Ya Al Quran itu. Mau baca Al Quran apa engga? Mau mempelajari apa engga? Karena hidayah itu sudah ada. Tinggal kita mau belajar apa enggak.
Simpelnya, kaya kalau kita beli alat elektronik. Mixer atau apalah. Pasti disana ada buku petunjuknya. Untuk mengoperasikan alat tersebut ada petunjuknya. Kalau ga baca (in case belum ada yang tahu cara mengoperasikannya) maka ga bakal bisa, kecuali dia MAU mempelajari alat atau baca buku petunjuknya.  Nah kalau buku petunjuk masih belum lengkap, misalnya ada eror atau yang lainnya, maka cari informasi sampingan. Internet misalnya. Atau kalau misalnya sama sekali ga bisa. Apa yang bisa kita lakukan? Ya, tentunya adalah dengan menghubungi penciptanya langsung. Pabriknya. Atau customer servicenya kan?
Begitu juga kita, manusia. Kalau Al-Quran masih belum ngerti, ada haditsnya atau tanya kepada orang yang udah lebih ngerti, kalau ga ngerti lagi? Tanya ke Alloh langsung. Bukan terus diem aja atau malah terus-terusan maksiat buat bisa dapet hidayah.betul kan ??
Masuk akal kan ya, penjelasan saya ?
Wallohu a’lam bishowab
Semoga bermanfaat
Selamat menjemput hidayah
Bogor, 10 Februari 2015. 14.49 WIB