Laman

Tampilkan postingan dengan label harmoni 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label harmoni 1. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Oktober 2015

semangat pagi ^_^

Semangat pagi semuaa..
bagaimana rasanya bangun lagi untuk yangkesekian kalinya?
bagaimana rasanya di kasih kesempatan lagi pagi ini ?
ga ada rasanya? biasa aja ?
hmm ....
atau bagaimana ?
kalau rasanya biasa aja, yuk mari baca selanjutnya ?
-
-
-
-
kalau rasanya biasa aja, horor banget, kenapa ?
karena bukan kita lagi yang memiliki diri kita.
tapi pekerjaan dan rutinitas kita.
bukan lagi kita yang memiliki kehidupan, tapi.. kehidupan yang memiliki kita .,
rugi gak ?
rugi dong
rugi bangetzz
makanyaa, yuk mari kita lihat ke cermin, dan lihat kita sendiri, bagaimana kita sebenarnya..
ketika kita merasa biasa saja, itu bukanlah kita lgi, karena kita sama saja kaya boneka, robot, ga ada warna warna kehidupannya ..
jadi, mari melihat lagi, yang mungkin sudah lama ga nengok hati kita, masih baikkah? masih bersihkah?
atau mungkin berdebu ..
yuk, bersihin tiap hari.. yang ga dihuni aja kotor kan, apalagi kalo dihuni ..
selamat bersih-bersih guys ..

Rabu, 29 April 2015

PETUAH

DEWASA ITU BUKANLAH TUJUAN..
KARENA DEWASA ADALAH PROSES,
PROSES UNTUK MENERIMA SEGALA SESUATUNYA DENGAN BIJAK 

Minggu, 05 Oktober 2014

tahu apa kamu tentang wanita, pria?

TAHU APA KAMU TENTANG WANITA, PRIA ??

Pria, tahu apa kamu tentang wanita? Mungkin hanya tahu kalau wanita adalah makhluk “rempong” yang menyebalkan. Atau makhluk manja yang ga tau apa maunya. Atau apa menurutmu, pria ?
Tahukah, kamu pria??
Kenapa wanita berdandan ? Tahukah kamu?
Tahukah, kamu pria ?

Kenapa wanita belajar dan sekolah tinggi? Tahukah ?
Tahukah kamu? Kenapa wanita suka benda-benda yang bagus dan menarik?
Tahukah kamu kenapa wanita suka memakai baju yang indah dan menawan?
Tahukah kamu kenapa wanita bersusah memakai high heels, sewaktu-waktu?
Tahukah kamu kenapa wanita belajar memasak dengan payah?
Tahukah kenapa wanita berlelah-lelah belajar mencuci dan merapikan baju?
Tahukah kenapa wanita bersusah-susah membereskan rumah tak kenal lelah?
Tahukah kenapa wanita sering melakukan hal2 bodoh ?
Tahukah kenapa wanita bersusah menjaga porsi badannya? Menahan untuk makan secukupnya? Menjaga berat badannya?
Tahukah kenapa wanita gendut bersusah diet dan wanita kurus memaksa makan?
Tahukah kenapa mereka tak lelah menanyakan kabarmu? Dimana keberadaaanmu? Sedang apa dirimu? Sudah makankah ? makan apakah? Kenapa wanita menjadi menyebalkan seperti itu?
Tahukah kenapa wanita menjadi sangat menyebalkan? Menanyaimu selalu, dimana kamu??
Tahukah?
Itu semua wanita lakukan untukmu ... iya, untuk kamu pria.. semuanya yang mereka lakukan untukmu. Menghias diri untuk apa? Mungkin beberapa diantaramu menjawab biar wanita cantik kan ? tapi cantiknya untuk siapa?? Ya untuk kamu pria.. untuk mu ..bukan untuk ayah yang membiayai kehidupan wanita dari kecil, bukan pula untuk ibunya yang merawatnya hingga dewasa. Tapi untuk kamu! Karena mereka ingin tampil menarik didepanmu mereka rela menghabiskan berjam-jam merawat diri, menghabiskan uang untuk ini itu yang tidak begitu penting untukmu. Tahukah rasanya jika kemudian kamu mengabaikannya dan malah melihat ke arah lain?? Semua yang wanita lakukan dan pelajari adalah untukmu ..
Untuk selalu tampil menarik didepanmu..
Untuk selalu memperhatikanmu .. dan yang pasti adalah ..
Untuk selalu memastikan bahwa kamu baik-baik saja..
Oleh karenanya, jangan sakiti hatinya. Rasululloh pernah bersabda, “wanita itu adalah manusia yang kurang akalnya, oleh karenanya wahai lelaki, berbaik hatilah kepadanya” aku juga seorang wanita, tapi aku tidak menolak pernyataan itu. Ya untuk akal memang kurang, karena wanita memiliki lebih banyak perasaan.
Wanita hanya dicipta dari tulang rusuk sebelah kiri, bentuknya pun bengkok.. makanya luruskan jika ia salah, tapi dengan cara yang baik, jangan terlalu keras, karena ia akan patah..
Tapi maha Adil sang pencipta yang menciptakannya dari tulang rusuk kiri lelaki, dekat dihati untuk dicintai, dekat lengan kiri untuk mudah melindungi ..

Jumat, 03 Oktober 2014

NOT JUST A STORY

KAIN KAPAN


Seperti dejavu. Kegiatanku hampir selalu sama dua minggu ini. Duduk di bus yang sama. Sebangku dengan orang yang sama. Melewati jalan yang sama.

Begitu juga dengan papan reklame kecil itu. Tetap sama. Tidak berubah. Tak bergeming digetarkan roda-roda bus dan truk yang besar. Sebenarnya mungkin terlalu berlebihan jika disebut papan reklame. Karena hanya sebuah papan kayu kecil yang kusam dan tertutup debu. Papan yang disangga tiang yang tingginya hanya sekitar 2 meter. Tulisannya masih jelas. Mungkin awalnya papannya di cat putih dan tulisannya berwarna merah, namun karena tersapu debu, terik matahari dan hujan maka membuatnya menjadi kusam. Tapi tetap saja tulisannya masih jelas. “JUAL KAIN KAPAN”

Pertama aku melihatnya, aku tertawa. Tertawa keras sekali. Bahkan memberitahu teman-temanku yang lain. Dan menertawakannya. Secara bahasa indonesia memang lucu, tapi itu memang bahasa wajarnya daerah sini. Maaf, bukannya ini SARA lhoo... tapi memang untuk masyarakat didaerah sini begitu. Huruf f-nya tersirat menjadi p. Jadinya KAIN KAFAN disebutnya KAIN KAPAN. Tapi lihatnlah, ternyata semuanya ada nilai pelajaran yang dapat diambil.

Seperti biasa aku kembali melewatinya, lama-lama tawaku berkurang, kemudian tersenyum dan merenung. Reklame itu sebenarnya syarat dengan makna. Kain kapan. Yah menurutku itu berarti adalah kain yang entah kapan akan kita pakai. Dan itu akan jadi pakaian terakhir kita.

Entah kapan, tapi hari itu pasti akan sampai. Semoga kita dapat belajar dari itu semua. Semoga bisa menjadi KAIN KAPANPUN, bukan KAIN KAPAN-KAPAN. Dengan KAPANPUN itu berarti kita selalu siap, dengan KAPAN-KAPAN itu berarti bahwa kita tidak siap, bahkan mungkin kita tidak yakin dengan itu. Mari bersiap untuk KAPANPUN 

Bogor, 03 Oktober 2014
06.59

Kamis, 02 Oktober 2014

some thing

CAUSE LIVE IS LEARN


Ini perjalanan terkahir ke harmoniku untuk satu rangkaian perjalanan, entah mungkin akan kesini lagi. Atau tidak.Entah kapan, entah besok, lusa. Entahlah.

Tak ubahnya perjalanan hidupku, perjalanan harmoni juga begitu. Memang sudah seharusnya ada macet, ada panas, belokan, jalan yang bau, atau tiba-tiba harus berhenti karena sesuatu atau karena dihadang lampu. Semuanya harus dilalui. Melewati padang mungkin, terowongan gelap, kelokan atau tanjakan tajam. Semuanya harus dilewati. Tentunya agar aku bisa sampai ke tempat tujuanku. Kalau aku lelah dan berhenti, maka aku tak akan sampai. Sesakit atau sepanas apapun aku harus terus bergerak. Entah menggunakan mobil atau kendaraan apapun, dengan siapapun. Suatu kali mungkin kamu akan berpisah atau berganti dengan angkutanmu, sopirmu, atau bahkan teman seperjalananmu. Mungkin tujuannya berbeda, atau mungkin tujuan sama tapi dia ingin melewati jalan yang berbeda. Semuanya serba mungkin.

Yang harus kamu punya adalah kesabaran tentunya. Dan juga keyakinan. Keyakinan bahwa usahamu, perjalananmu tak akan sia-sia. Dan jalan yang kamu lalui sekarang memang adalah jalan yang harus kamu lalui agar kamu bisa dan mampu melewati jalan-jalanmu selanjutnya. Ah ya dan kamu juga harus percaya, percaya bahwa ini memang jalanmu yang seharusnya, dan percaya jalanmu itu adalah jalanmu yang sebenarnya. Lelah, haus, lapar, dan mungkin marah itu hal yang wajar. Jangan salahkan jalan atau angkutan atau teman seperjalananmu. Kenapa? Ya karena semua itu tergantung padamu. Tergantung hati dan fikiranmu yang mengaturnya.

Dipinggir jalan aku melihat seorang pemuda berjualan kacang dan tahu. Entahlah aku merasa dari melihat mereka, aku bangga. Mereka mau berusaha, bagaimanapun caranya. Aku menertawai diriku yang menangis. Kenapa harus menangis. Ditangisi juga memang jalan ini yang harus kamu tempuh. Mau sampai ke rumahmu kan?

Aku melihat bedengan itu lagi, dan aku tertawa lagi. Menertawai diriku. Kenapa harus menangis lagi? Banyak yang harus melewati jalan yang lebih susah daripada jalanmu. Kenapa begitu cengeng? Sebenarnya aku tidak cengeng. Tapi aku benar-benar meresapi setiap perjalanan ini. Aku terharu. Dijalan ini aku bisa mendengar banyak cerita dari sudut mataku. Banyak hal positif yang bisa aku dapakan.

Dipinggir trotoar jalan aku melihat seorang lelaki paruh baya. Didekatnya ada kerupuk yang dibungkus sedemikian rupa. Dan kini aku benar-benar menangis melihanya. Kenapa? Karena ternyata dia buta, ya lelaki penjual kerupuk itu buta. Pertama kali melihatnya ku tak menyadarinya. Dia duduk di palang pagar yang membatasi trotoar dan taman kota. Tapi kemudian aku melihatnya, tangan kirinya sedang merabakan tongkatnya ke dalam taman. Kemudian dia membalik arah dan memegangi kerupuknya, mengelus dan merabanya. Memastikan kerupuknya ada. Hei lihatlah aku. Kenapa aku begitu sering menangisi orang yang bahkan tak mengenalmu. Tak peduli padamu.

Sungai-sungai dipinggir jalan terdiam. Murung. Keruh dan bingung. Kemana lagi mereka mengalir? Kemana lagi mereka melarikan diri dari gundukan-gundukan sampah yang menahan perjalanannya. Ah mungkin air itu sudah bosan. Setiap perjalannya dihambat sampah. Tapi aku yakin, mereka pasti masih berusaha. Mencari celah untuk mengalir. Untuk apa? Ya untuk melanjutkan perjalanannya.
Lihatlah. Semuanya punya jalan masing-masing. Dan jalan itu sudah ditetapkan. Tidak ada sepeda motor yang mau masuk tol kan ? ya karena semua jalan sudah ditetapkan. Begitu juga kehidupanku. Kehidupanmu. Kehidupan kita. Dan kehidupan semua manusia. Yang tidak hidup saja punya jalur perjalanan sendiri.

Apapun yang terjadi padaku sekarang, ataupun nanti, atau yang sudah lalu. Tidak akan merubah jalanmu. Kamu harus tetap berjalan menuju tujuanmu. Entah apapun yang menunggu disana. Kamu harus tetap berjalan. Percaya saja. Dari apapun yang menunggumu, kebaikan salah satunya.

Harmoni
02 oktober 2014
17.10

thanks for coming ^_^

Rabu, 01 Oktober 2014

Mungkinkah itu, Rumah ??

MUNGKINKAH, ITU, RUMAH ??


Bergegas dan terburu-buru .. tak ku temukan ada yang santai berjalan menikmati sore. Menikmati sang senja yang sedang menyampaikan salam perpisahannya. Begitu mempesona dengan warna emasnya. Bahkan diberikan waktu berhenti oleh lampu tiga warna saja mereka hadang dengan wajah-wajah kesal. Entahlah .. aku sedang berfikir kenapa. Apakah karena panas? Atau lelah? Atau takut berpisah dengan matahari?

Disini aku duduk dengan santai.. angin bertiup kencang dari atas kepalaku, dingin, tapi tidak menyiksa. Menekuri mesin ketik modernku. Mencoba berani menggambarkan situasi dengan kurang ajar. Aku tersenyum sendiri, menertawai. Beraninya aku?

Bus yang membawaku melaju, tersaruk lampu merah di hampir setiap 2 km didepan. Mungkin kesal, tapi bagaimana lagi? Jalan ini harus ditempuh. Mungkin dibelakang sana asap kekesalan bus-ku menderu, menghajar setiap mobil yang mengejar dan memaki dengan klakson tiada henti.
Ada pemandangan yang mengherankan didekat lampu merah. Ah selanjutnya mungkin bisa disebut pusat kemacetan, begitu mungkin. Di tengah jalan ada yang berjualan makanan-makanan. Bakpao, kacang. Ketika semua kendaraan berdesakkan ingin berjalan dan segera sampai rumah, mereka dengan santainya menunggu rejeki disana. Dengan sabar. Ah memang hidup itu misteri, kita takkan pernah tahu apa yang akan terjadi, bahkan sedetik setelah ini. Begitu juga rejeki. Satu yang pasti adalah kepercayaan. Selama kita percaya, pasti bisa.
Ah kenapa jadi kemana-mana. Padahal awalnya ku Cuma berniat menceritakan seujung kecil tanah yang tertutup. Disini, dipinggir jalan yang aku lalui. Di pusat pemerintahan negri yang kaya raya. Yang katanya kolam susu, zamrud khatulistiwa, yang tanahnya ajaib karna kayu dan batu akan jadi tanaman. Berhari-hari aku lewat sini, melewati jalan yang sama, pada jam-jam yang sama. Dengan bus dan seragam yang sama. Dengan orang yang sama yang duduk disampingku. Tentunya dengan kondisi jalan yang tidak jauh berbeda. Macet. Setiap hari kuhabiskan sekitar 6 sampai 7 jam di bus ini. Membosankan.
Awal ku melihat kotak itu, aku biasa saja, tapi kemudian pada hari selanjutnya aku bertanya-tanya. Kotak itu terpojok dibawah pohon. Terletak menempel ditembok sebuah bangunan yang bernama hotel. Bangunan hotelnya bagus, bagus sekali menurutku. Unik dan mungkin, ah bukan mungkin, pasti mahal. Menjulang tinggi seperti bangunan yang lainnya dikota ini. Berwarna orange cerah. Di sampingnya ada semacam taman dengan pohon-pohon palem dan tanaman rambat. Tidak begitu bersih. Namun bisa disebut taman. Diujung taman ada lekukan dari hotel itu. Dan ada pohon yang lumayan besar, yanh sepelukan tangan berdiri persisi didekat lekukan itu. Diantara pohon dan tembok ada kain yang membentang, mungkin kalau aku berdiri disana tingginya sedaguku. Lebarnya sekitar satu meter. Tak ada alas tak ada tutup. Hanya begitu, sisi satunya lagi tidak ada penutup. Hari kedua aku melihat seorang lelaki. Lusuh. Kumal. Namun entah kenapa, bagaimanapun aku merasa kalau dia masih termasuk orang-orang yang mau berusaha, bukan diam saja merenungi nasib, pasrah dan putus asa. Sore itu aku melihatnya sedang menghadap ketembok. Menuliskan sesuatu. Entah apa. Tapi aku merasa terharu. Aku berpikir keras. Mungkinkah itu, “rumah”?
Mungkinkah itu rumah? Untuk siapa? Bagaimana ia tidur?? Kalau hujan? Dimana kamar mandinya? Bagaimana ia mandi dan buang air? Dimana ia menyimpan barang berharganya?
Banyak sekali pertanyaan yang menumpuk. Begitu mirisnya. Tapi aku terharu. Aku berfikir. Lelaki itu adalah seorang ayah yang mengadu nasib untuk anak dan istrinya di desa. Menuliskan setiap kata rindunya di tembok yang kusam. Namun setidaknya aku tahu, lelaki itu termasuk orang-orang yang berusaha. Semoga setiap usahanya tidak sia-sia.


Harmoni, jakarta pusat
30 september 2014
17.47 WIB