Laman

Minggu, 20 Desember 2015

Denting Hujan

Seperti biasanya,
Sore ini hujan, lagi

Tadinya aku merasa,
Hujan membuatku tersudut dalam sepi ..
Membuatku tak mengerti kenapa hujan lagi dan lagi ..

Tadinya aku merasa,
Hujan membuatku sendiri ..
Dengan hujan dia tak akan kemari menemani ..

Tadinya aku merasa,
Hujan itu menyakiti ..
Bersama sekawanan dingin yang menyakiti ..

Tapi kini,
Di sini ..
Dan sekarang ini ..
Ketika aku sendiri,
Ketika aku merasa sepi,
Ketika dia tak lagi peduli,
Ketika sakit itu tak lagi berarti ..
Ternyata hujan yang menemani ..
Ternyata hujan yang menjadi penyejuk sakitku ..
Karena hujan itu,
Seperti denting-denting bernada yang mengisi kesepianku ..

Terima kasih, kau membuatku mengerti betapa hujan ini sangat berarti ..

Jakarta, 20 des 2015
17.13

Hujan ini, juga membuatku merindu ..
Merindukan masa lalu yang bukan lagi milikku

Berkah hujan

Musim penghujan telah tiba, akan banyak air mengalir dimana-mana ..
Segala macam tanggapan dari kita, manusia juga bermacam-macam ..
Ada yang bilang hujan yang menyebabkan banjir, ada yang bilang hujan akan menyuburkan tanaman ..
Tergantung kepada pikiran kita masing-masing. Tapi seperti yang sudah Alloh subhanahuwata'ala sampaikan kepada kita, setiap sesuatu pasti ada maknanya ..
Doaku untuk hujan sore ini,

Hujan sore ini, semoga membawa banyak keberkahan ..
Air yang mengalir, membersihkan setiap tempat, jiwa dan hati yang kotor ..
Setiap air yang mengalir, membawa makna kepada setiap kehidupan yang baru,
Dan air yang mengalir, membawa nilai2 kehidupan baru yang bersih, baik dan hakiki ..

Aamiin

Ragunan, 20-12-15 17.02 wib

Kamis, 17 Desember 2015

INI AKAN BERLALU

Its just about time ..
Apapun itu, akan berlalu ..
Hanya masalah waktu,
Dan semuanya akan berlalu,

Jangan berlebihan,
Senangmu, akan berlalu,
Sedihmu juga tak selamanya,
Sakitmu hanya sementara,
Pun sehatmu tak tau berapa lama ..

Just go on ..
Dont take up to much to feel unimportant things ..

Just go on,
dont waste your time,

when you think you have time,
its mean you loose them ..

Selasa, 06 Oktober 2015

semangat pagi ^_^

Semangat pagi semuaa..
bagaimana rasanya bangun lagi untuk yangkesekian kalinya?
bagaimana rasanya di kasih kesempatan lagi pagi ini ?
ga ada rasanya? biasa aja ?
hmm ....
atau bagaimana ?
kalau rasanya biasa aja, yuk mari baca selanjutnya ?
-
-
-
-
kalau rasanya biasa aja, horor banget, kenapa ?
karena bukan kita lagi yang memiliki diri kita.
tapi pekerjaan dan rutinitas kita.
bukan lagi kita yang memiliki kehidupan, tapi.. kehidupan yang memiliki kita .,
rugi gak ?
rugi dong
rugi bangetzz
makanyaa, yuk mari kita lihat ke cermin, dan lihat kita sendiri, bagaimana kita sebenarnya..
ketika kita merasa biasa saja, itu bukanlah kita lgi, karena kita sama saja kaya boneka, robot, ga ada warna warna kehidupannya ..
jadi, mari melihat lagi, yang mungkin sudah lama ga nengok hati kita, masih baikkah? masih bersihkah?
atau mungkin berdebu ..
yuk, bersihin tiap hari.. yang ga dihuni aja kotor kan, apalagi kalo dihuni ..
selamat bersih-bersih guys ..

Senin, 05 Oktober 2015

Sudahkah kita ?

mencopas dari adjiesilarus.com beneran bagus, dan menggugah ..
yuk baca juga ..

Sudah Berapa Lama Kamu Tidak Memeluk Dirimu Sendiri?

“Tak akan mampu memberikan pelukan hangat, jika belum melakukan serupa untuk diri sendiri.
Ada luka di dalam diri yang menyebabkan masalah-masalah hadir dalam kehidupan saya. Perasaan tidak bahagia, menderita, stres, melakukan penundaan, mudah terganggu, marah tak tentu arah, tidak puas dengan segala yang ada, gaya hidup yang sembarangan, cenderung tidak sehat, dan lain sebagainya.
Masalah-masalah yang tidak sederhana, apalagi ketika bersarang terlalu lama menemani waktu yang tak kenal kata berhenti. “Apakah ada cara untuk membantu melunakkan masalah-masalah itu beserta dampak buruknya, dan membuat hidup saya lebih baik daripada sebelumnya?”
Layaknya minum untuk melepas dahaga diawali dengan merasa haus, sebelum melakukan cara untuk melunakkan masalah, perlu diawali dengan kesadaran akan kenyataan yang ada bahwa diri saya menderita. Derita tidak membuat diri saya berkecil hati, karena saya punya banyak kawan. Kita semua menderita. Kita semua terluka, dari luka kecil yang bahkan kita tidak merasa kalau kita terluka, sampai luka besar yang dengan seluruh daya dan upaya, kita tidak mampu menyembunyikannya. Setiap hari kita terluka. Luka dan derita ini yang menyebabkan masalah-masalah hadir dalam kehidupan.
Setelah kesadaran ini ada, saya perlu memperbaiki hubungan dengan diri saya sendiri, bukan malah membencinya. Saya mulai berusaha memunculkan cinta dari saya untuk diri saya sendiri. Setelah selama ini, dipenuhi sesak dengan hujatan.
“Seberapa sering saya menghina dan membenci diri saya sendiri?”
Baik terwujud nyata dalam perasaan maupun perkataan, caci maki kepada diri sendiri terus terjadi hanya karena daftar yang harus diselesaikan setiap hari bertambah banyak, karena kritik keras dari orang lain, bahkan sebelumnya saya tidak mengenalnya, karena hal-hal yang tak kunjung terselesaikan, karena sikap dan perilaku orang-orang yang tak sesuai keinginan saya, karena kemacetan lalu lintas, karena aplikasi yang tidak bisa digunakan sesuai rencana, karena marah setelah orang-orang di sekitar mengucapkan kata tak mengenakkan hati, karena kawan-kawan seolah tak mau memberikan telinganya untuk mendengarkan secara sukarela keluh kesah saya, juga karena merasa diri serba tidak baik, terlalu kurus, terlalu tinggi, memakai kacamata, gundul, tidak punya kemampuan ini dan itu, dan masih banyak lagi. Ada juga yang selalu merasa tidak cantik, miskin, kesepian, dijauhi, dibenci, tua, jelek, tidak nyaman dan segala yang tidak baik. Tanpa disadari merawat dan memupuk hubungan rusak dengan diri sendiri.
Melunakkan masalah yang hadir dengan mencintai diri saya sendiri. Untuk sebagian orang, mencintai diri sendiri terkesan aneh, tak bisa dipahami dengan mudah. Bahkan malah ada yang salah mengartikan menjadi egois. Mencintai diri sendiri bukan egois. Mencintai diri sendiri juga bukan berarti terlalu memanjakan diri, bukan terjajah oleh cinta, yang akan kembali mendatangkan derita.
Mencintai diri saya sendiri berarti bersikap lemah lembut kepada diri saya sendiri. Sesederhana memuji diri sendiri sepantasnya. Menerima diri saya saat ini, di sini-kini, apa adanya, termasuk menerima goresan-goresan luka, pun luka yang masih menganga. Sudah berapa lama saya tidak memeluk diri saya sendiri? Dengan penuh rasa maaf dan diselimuti kehangatan?
Hanya dengan cara demikian, masalah-masalah yang hadir dan bersarang melunak, hingga lebih bisa dan mampu mencintai sesama, siapapun, semua makhluk dan apapun.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~terima kasih~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Minggu, 27 September 2015

WAKE UP NOTE

halloo..
lama tak bersua ..
semoga semakin baik, ah pikiran saya mengatakan bahwa saya mempunyai banyak pekerjaan dan  melupakan untuk sekedar menyapa loteng..
sudah berdebu ternyata hehe
tapi kemudian pada suatu hari mendapat email dari motivator hidup, adjie silarus yang membantu mengajari metode untuk menenangkan diri ..
semoga bermanfaat juga ya untuk yang baca, makasiih
================================================
Manusia yang Terlalu Lelah


Dulu setiap hari saya merasa sibuk, bahkan sangat sibuk, seolah tak ada jeda untuk sekadar menghela napas. Saya selalu bekerja keras, berpindah tempat di antara lautan mobil, berusaha mengerahkan tenaga sampai di luar batas untuk menghasilkan pendapatan lebih, tapi juga dibarengi dengan pengeluaran yang lebih, begadang dan bangun pagi-pagi buta, tak mengenal durasi istirahat tidur yang sehat untuk tubuh dan pikiran, ditambah selalu melalui waktu dengan terburu-buru. Saya ingin membangun, meraih, menghasilkan lebih banyak daripada sebelumnya dan saya terus menerus mengulangi semuanya itu lagi dan lagi.

Di lain sisi, saya juga ingin mencintai dan dicintai, merasakan kasih dan sayang, selalu merasa dahaga akan cinta, hingga selalu merasa kekurangan ... kekurangan akan segalanya. Malangnya, laju hidup saya yang terlalu cepat mengejar segala yang lebih, membuat saya kehabisan tenaga, menjadi manusia yang terlalu lelah, untuk mencintai dan dicintai. Malah saya mengerdilkan diri dan menjauh dari kemampuan alami manusia, yaitu mencintai dan dicintai. Bahkan lebih menyedihkannya lagi, adalah terus lari berkejaran dalam perlombaan ini membuat saya terlalu letih, tak mampu mencipta makna dan membuang waktu percuma dalam meraih cita-cita, baik dalam berkarya maupun dalam berkeluarga.

Hingga saya sadarkan diri untuk berhenti sejenak lalu mengajukan pertanyaan:
"Bagaimana jika, daripada menginginkan segalanya lebih, saya mengurangi keinginan saya saja, bahkan mengurangi apapun yang berlebihan yang sudah saya punya?
Lalu, apakah saya mampu memperlambat laju hidup yang sudah terlalu cepat?"


Big hug,
Adjie Silarus

Senin, 10 Agustus 2015

MAAF ..




Aku bukan wanita yang sempurna, pun bukan muslimah yang alim. Suatu ketika kau akan melihatku mengulurkan hijabku, suatu kali kamu melihat bajuku yang tidak longgar. Tolong jangan salahkan jilbabku, jangan salahkan bajuku yang tidak sesuai, jangan salahkan agamaku, jangan salahkan status muslimahku. Karena itu murni salah diriku. Bukan apa yang menempel padaku. Bukan salah agamaku. Itu salahku.
Suatu kali kau akan mendengar banyak nasehat terurai dari mulutku. Dengan yakin aku mengatakannya. Tapi kali lain, kau melihatku juga melanggarnya. Tolong jangan salahkan nasehat yang pernah terucap. Jangan bandingkan dengan sikapku yang tak sesuai. Tolong jangan.
Aku manusia biasa. Sangat biasa. Tidak istimewa. Tapi sangat ku syukuri bagaimana aku di ciptakan. Dan itu pula yang membuatku malu. Betapa aku diciptakan sebaik ini, namun malah masih mengotori kesempurnaan yang sudah diberikanNya.
Setiap kali aku memakai  baju yang tak sesuai, seringkali itu karena aku merasa percaya kepada diriku dan tak menyerahkan diri sepenuhnya kepadaNya. Atau karena akal fikirku yang labil dan kelabu tersaput debu.
Setiap kali kau melihatku dengan gamis dan jilbab yang terulur. Itu bukan karena aku alim. Itu karena aku merasa nyaman dengan itu. Atau karena aku merasa memang seharusnya begitu. Atau juga kadang aku merasa malu. Ya malu.
Kala aku banyak menasehati. Itu bukan karena aku benar dan tak pernah melakukannya. Percayalah. Aku hanyalah seorang pendosa. Seperti manusia lainnya. entah bagaimana jika Alloh tak menutupi aib-aibku. Kala aku menasehati itu karena mungkin aku sudah merasakan dan melakukannya sehingga aku tak mau juga terjadi atau dilakukan oleh orang-orang dekatku. Itu saja.
Maafkan aku dengan ketidak sempurnaanku, tapi inshaAlloh semoga perbaikanku berjalan terus ..
Maafkan lisanku yang masih sering melukai banyak hati, dan telingaku yang tak mendengar banyak nasehat,
Jika ada yang salah padaku, tolong, ingatkan aku, ingatkan aku pelan-pelan ...
Syukron