Re-Frame ~ Kisah Teladan dari Rosululloh
Kita, seluruh umat muslim di dunia pasti
tahu bahwa islam tidak masuk secara Cuma-Cuma ke bumi ini. Ada pengorbanan, ada
perjuangan. Dan kita juga tahu bahwa islam tidak masuk dengan kekerasan dan
paksaan, islam masuk seperti air,meresap dengan lembut. Dan kita tahu, semua
itu tak lepas dari bagaimana dulu sikap dari suri tauladan kita, Rosululloh
dalam menyebarkan agama islam. Jika sekarang ada yang sedang mendapatkan
masalah, coba ingat Rosululloh saw, apakah jalan kita, kesusahan kita,
kesedihan kita lebih berat dari Rosululloh?? Beliau yatim dari sebelum lahir,
piatu sebelum baligh. Itu sebelum beliau menyebarkan islam, kemudian setelah
menyebarkan, apakah ujiannya berhenti?? Tidak kan .. justru semakin banyak.
Salah satunya adalah bagaimana beliau dilempari kotoran unta oleh kaum yang
membencinya. Apakah beliau marah ? tidak kan .. inilah kisah yang akan saya
ceritakan. Dari sini, kita bisa mengetahui betapa indahnya akhlaq beliau.
Jadi, seperti yang sudah kita ketahui
bahwa dahulu, Rosululloh sering dilempari kotoran unta, di ludahi dan
sebagainya. Apakah beliau marah ?? tidak. Tidak sama sekali. Coba sekarang mari
berdiam dan bayangkan jika ada yang meludahi atau ada yang melempari kita
kotoran ayam, ah tidak, jika kita berdiri di bawah pepohonan dan tiba-tiba ada
burung yang tidak sengaja membuang kotoran di muka, ah jangan di muka, di baju
saja. Bagaimana ?? apa perasaan anda?? Tidak perlu kita jawab, cukup hati kita
saja yang tahu. Tentunya sangat berbeda dengan apa yang Rosululloh rasakan
bukan ??
Jadi, yang akan saya ceritakan disini
adalah, kenapa Rosululloh tidak marah? Apakah beliau bukan manusia? Atau beliau
itu manusia super?? Tidak kan? Beliau juga manusia. Sama seperti kita. Kenapa
beliau manusia sama seperti kita? Karena Alloh swt maha adil, beliau manusia
seperti kita agar kita pengikutnya bisa mencontoh beliau dengan wajar, tidak
ada perbandingan. Coba kalau beliau manusia super, pasti kita akan
membanding-bandingkan dan akan susah jika disuruh mencontoh beliau. “ah kan
beda, Rosul kan manusia super?” begitu pasti kan?? Karena memang dalam Al-Quran
juga sudah disebutkan bahwa manusia itu sangat sedikit bersyukur.
Kembali ke cerita bagaimana Rosululloh
bisa tidak marah ketika ada yang melempari kotoran unta. Rosululloh malah
menghargai orang tersebut. kok bisa ya ??
Jadi begini ..
kita sebagai manusia, tidak bisa mengatur
lingkungan kita, tidak bisa membuat lingkungan kita, baik orang lain, atau
keadaan atau apapun yang diluar diri kita menjadi seperti yang kita inginkan.
Rencana kita, tujuan kita, jadwal, keinginan, harapan, kita tidak bisa
membuatnya begitu saja menjadi seperti yang kita mau. Betul ?? jadi, apa yang
harus kita lakukan??
Sederhana, hanya satu yang perlu kita
lakukan. Mengatur sistem respons yang ada pada kita. Bagaimana kita merespon,
menerima, memperlakukan apa yang orang lain lakukan terhadap kita. Contoh
nyatanya adalah Rosululloh ketika menerima perlakuan dari lemparan kotoran unta
tersebut. Rosululloh berpikir bahwa orang yang akan melemparinya kotoran unta
harus bangun lebih awal dari orang lain untuk mengumpulkan kotoran unta dari
kandangnya, dan itu tidak mudah. Bisa anda bayangkan bagaimana pekerjaan itu?
Memasukkan kotoran unta ke dalam kantong yang sudah disiapkan, bagaimana
baunya, bentuknya dan harus menyendoknya untuk memasukkan ke dalam kantong.
Kemudian ketika satu kandang tidak cukup banyak, maka dia harus membawa kantung
tersebut ke kandang yang lain untuk mencari kotoran unta yang lain. Apakah anda
bisa membayangkan bagaimana rasanya membawa-bawa kotoran seperti itu?
Selanjutnya setelah dia mendapatkan
kotoran unta yang cukup, maka dia akan menunggu di tempat dimana Rosululloh
biasa lewat. Misalnya biasanya rosululloh lewat jalan A setelah sepulang dari
masjid, maka pelaku akan menunggu disana. Apakah sebentar? Belum tentu. Dan
apakah nyaman duduk menunggui sekantong kotoran unta yang bau?? Dan apakah
Rosululloh pasti akan langsung lewat begitu saja? Belum tentu, jika beliau ada
rapat dengan sahabat dulu bagaimana? Lama lagi kan menunggui kotoran untanya??
Apakah nyaman? Pasti tidak. Dari situ Rosululloh sangat menghargai pelempar kotoran unta,
kenapa? Karena tidak ada satupun sahabat yang menyambutnya dengan begitu heboh
dan penuh perjuangan seperti sang pelempar kotoran unta.
Tidak masalah apapun perlakuan orang
lain, atau keadaan atau lingkungan kepada kita, yang penting bagaimana kita
menanggapinya. Kuncinya, think positiv. Alloh swt never make a mistake, isn’t?
Apakah bisa mendapatkan apa yang saya
maksudkan dari cerita ini? Saya harap ada nilai yang tersampaikan, dan semoga
bermanfaat. Special thanks buat kak Rio yang udah menceritakan kisah ini kepada
saya, syukron for open my heart.. maaf re-tell storinya masih ngalor ngidul. untuk
mbakku yang galau, semoga tulisan ini bermanfaat, semoga mbak bisa merasakan
apa yang aku rasa setelah mengetahui kisah ini ..
Selamat me-re-frame..
In the rain, bogor, 13 – 12 -15, 10.29
WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar